Rabu, 09 Desember 2009

TBC (tubercholosis)


AYO TANGKAL TBC


Jika tak diobati secara tuntas, bakteri TBC tak cuma betah bersarang di paru-paru. Organ-organ vital tubuh seperti otak, usus, ginjal dan tulang, menjadi sasaran penyebaran yang akan berakhir dengan kerusakan.

"Setiap tahun ada sekitar 500.000 penderita TBC baru di Indonesia. Dari jumlah itu, 425 penderita meninggal setiap harinya," demikian diungkapkan Fajar Arif Budiman dari Koalisi untuk Indonesia Sehat (KuIS). Tak heran, jika data tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan penderita TBC tertinggi ketiga di dunia, setelah India dan Cina. "Tingginya populasi penderita penyakit ini selain karena faktor gizi yang buruk, juga rendahnya kesadaran masyarakat untuk berobat. Padahal, pemerintah sudah menyediakan pengobatan gratis bagi para penderita."

Fajar menyangkal bila penyakit yang awalnya menyerang paru-paru ini dikatakan hanya dialami kalangan miskin. Pendapat tersebut diiyakan oleh dr. H.M. Vinci Gazali, Sp.A. Menurutnya, angka penderita TBC akan meningkat seiring dengan melemahnya kondisi ekonomi negara. Di Indonesia, contohnya, jumlah penderita meningkat ketika negara dihantam krisis moneter.

Jumlah penderita TBC juga cenderung meningkat seiring makin banyaknya pengidap HIV/AIDS. Lo, kenapa begitu? Dokter anak dari RS MMC, Kuningan, Jakarta ini menjelaskan, bakteri TBC hanya bisa ditangkal sel-sel darah putih. Karenanya, jika ada kerusakan sel darah putih atau jumlah sel darah putih dalam tubuh kurang, apa pun penyebabnya, maka yang bersangkutan berisiko tinggi terkena TBC. "Minimnya jumlah sel darah putih seperti pada penderita HIV/AIDS membuat sistem pertahanan tubuh tidak optimal hingga mudah diserang oleh bakteri TBC."

Gejala utama TBC pada anak umumnya hanya berupa demam ringan namun berlangsung lama. Sedikit kenaikan suhu tubuh yang tak kunjung reda dijelaskan oleh Vinci, "TBC merupakan infeksi kronis. Tubuh akan bereaksi terhadap bakteri-bakteri yang sudah masuk ke dalam tubuh dengan meningkatkan metabolisme. Nah, meningkatnya metabolisme inilah yang secara otimatis menaikkan suhu tubuh."

Ciri lain, berat badan anak biasanya tak bertambah. Ini karena kalori yang dipakai untuk menaikkan berat badan dipakai untuk melawan bakteri TBC. Disamping itu, penderita pun umumnya malas makan sehingga makin menghambat pertambahan berat badannya. Anak pun terlihat rewel, gelisah, lesu, dan mudah berkeringat. Berdasarkan gejala-gejala tersebut, dokter akan melakukan serangkaian tes untuk menentukan apakah anak terkena TBC atau tidak.

MENULAR LEWAT UDARA

TBC sendiri merupakan penyakit yang disebabkan bakteri mycobacterium tuberculosis. Masa inkubasinya berbeda dari penyakit lain. Pada penyakit lain, inkubasi diartikan sebagai tenggang waktu antara mulai masuknya bibit penyakit sampai munculnya gejala seperti demam. Sedangkan pada TBC, masa inkubasi dihitung dari masuknya kuman hingga timbulnya pembesaran getah bening di dalam paru-paru yang kadang tidak memperlihatkan gejala. Masa inkubasi ini rata-rata berlangsung antara 8-12 minggu. Di saat itulah dokter sudah bisa mengatakan si kecil telah positif mengidap TBC. Setelah masa inkubasi barulah timbul gejala.

Menurut Vinci, anak umumnya mengidap TBC lantaran tertular orang dewasa. Pada orang dewasa, bakteri penyebab TBC masuk ke paru-paru kemudian menyerang dinding saluran napas dengan membentuk rongga yang berisi nanah dan bakteri TBC. Nah, setiap kali yang bersangkutan batuk, bakteri TBC yang berukuran kurang dari 10 mikron ikut terlontar keluar dan melayang-layang di udara. Kalau anak yang sehat menghirup udara yang kebetulan mengandung bakteri TBC, maka ia berkemungkinan terkena.

Namun pada anak-anak, bakteri yang ikut masuk tadi hanya menyerang jaringan paru-paru. Jadi, tidak sampai menyerang dinding saluran napas/bronchus. Itulah sebabnya, anak yang menderita TBC umumnya tidak memperlihatkan gejala batuk. Karena tidak pernah batuk, bakteri jadi tidak pernah keluar dan anak tidak akan pernah menularkan penyakitnya kepada orang lain. Fase ini dinamakan sebagai TBC tertutup.

Meski begitu, pada anak-anak dengan status gizi sangat buruk, bakteri TBC bisa saja menyerang saluran bronchusnya hingga menimbulkan rongga bernanah berisi bakteri TBC seperti layaknya TBC pada orang dewasa. Anak akan sering terbatuk dan ikut keluarlah nanah dan bakteri yang bercokol di tubuhnya. TBC anak yang seperti ini bersifat menular dan fasenya bukan tertutup lagi, melainkan sudah terbuka.

Hal yang perlu diwaspadai dari penyakit ini adalah terjadinya komplikasi. Komplikasi terjadi karena bakteri yang masuk ke paru-paru tidak bisa dilawan oleh sel darah putih. Akibatnya, bakteri tersebut masuk ke aliran darah dan menyerang organ-organ vital seperti tulang, sendi panggul, otak, dan lain-lain. Hal ini umumnya terjadi pada anak yang belum mendapat vaksinasi BCG atau bisa juga karena ibu menderita TBC di masa hamil dan kemudian menularkannya pada bayi melalui ASI. Risiko tertular makin besar bila si anak memiliki kondisi gizi buruk.

TES UNTUK MENDETEKSI

Vinci menjelaskan, tidak mudah untuk memvonis seorang anak mengidap TBC. Dibutuhkan serangkaian tes dan konsultasi langsung dengan keluarga untuk menemukan jawaban pastinya:

1. TES RONTGEN

Tes ini untuk mengetahui ada tidaknya flek paru pada anak. Sayangnya hasil foto rontgen tak bisa dijadikan patokan mutlak. Sebab, flek paru pada anak untuk menentukan sebuah penyakit tidaklah khas. Artinya, flek yang disebabkan oleh TBC dan asma, contohnya, relatif sama. Ini berbeda dengan orang dewasa, foto flek paru akibat TBC pada orang dewasa umumnya sedikit berawan pada bagian atas, sedangkan pada penderita asma berawan pada bagian bawah.

Selain itu, anak yang tidak ada flek parunya saat di-rontgen bukan berarti bebas dari TBC. Bisa saja dia tidak terkena TBC paru, tapi TBC tulang hingga hasilnya tidak tampak. Pemeriksaan rontgen ini tentu saja mesti diikuti tes lainnya.

2. TES MANTOUX

Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat kadar sel darah putih (leukosit) pada anak. Jika jumlah sel leukosit menunjukkan peningkatan tajam melebihi standar normal (>10 milimeter), ada kemungkinan yang bersangkutan menderita TBC. Meningkatnya sel darah putih ini berguna untuk melawan bakteri TBC. Pemeriksaan ini umumnya dilanjutkan dengan screening untuk menentukan apakah ia positif terkena TBC atau tidak. Pemeriksaan ini juga mesti dilakukan hati-hati, karena bukan berarti anak yang jumlah leukositnya rendah negatif pastilah TBC. Mungkin saja si anak berstatus gizi sangat buruk, hingga tubuhnya tidak bisa memproduksi sel darah putih, alias kekebalan tubuhnya terganggu.

3. TES DARAH

Ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana laju endap darahnya. Selain bisa juga ditemukan adanya antibodi TBC. Jika laju endap darahnya kurang baik dan ditemukan antibodi TBC, besar kemungkinan si kecil terkena TBC.

4. WAWANCARA

Untuk mengetahui riwayat perjalanan penyakit anak, wawancara mesti dilakukan secara detail. Beberapa yang hal yang biasanya ditanyakan antara lain lamanya demam, siapa saja anggota keluarga yang berpotensi kemungkinan menularkan penyakit, adakah keluarga yang mengidap TBC. Semua pertanyaan itu sangat penting untuk menegakkan diagnosa TBC pada anak.

OBATI DENGAN TUNTAS

Jika anak positif terkena TBC, dokter akan memberikan obat antibiotika khusus TBC yang harus diminum dalam jangka panjang yang berlangsung minimal 6 bulan. Lamanya pengobatan tidak bisa diperpendek karena bakteri TBC tergolong sulit mati dan sebagian ada yang "tidur". Dengan pengobatan jangka panjang, diharapkan bakteri yang "tidur" itu bisa dihabisi begitu terbangun. Sedangkan sisa bakteri akan hancur sendiri oleh adanya kekebalan tubuh. Lagi pula jika dosis obat untuk enam bulan lalu dipersingkat dan dipadatkan menjadi satu bulan, penderita bisa keracunan.

Jenis obat yang biasa diberikan di antaranya rifampisin atau pirazinamide. Jangka waktu pengobatan bisa bertambah jika penyakitnya cukup berat. Bahkan bukan tidak mungkin akan dilanjutkan dengan obat-obat suntikan untuk TBC yang mesti diberikan setiap hari dengan dosis tertentu. Untuk kasus TBC berat, penderita pun kadang harus menjalani rawat inap.

Setelah sembuh, penderita TBC biasanya diharuskan menjalani evaluasi guna melihat reaksi obat dan tingkat kesembuhan pasien. Caranya, mengamati pertambahan berat badan dan gejala-gejala lain yang menyertai TBC. Meski terlihat sembuh, si kecil tetap harus menghabiskan obat yang ada. Dengan cara itu, semua bakteri TBC bisa dihancurkan.

MACAM-MACAM TBC

Penyakit TBC bisa menimbulkan komplikasi, yaitu menyerang beberapa organ vital tubuh, di antaranya:

1. TULANG

TBC tulang ini bisa disebabkan oleh bakteri TBC yang mengendap di paru-paru, lalu terjadi komplikasi dan masuk ke tulang. Atau bisa juga bakteri TBC langsung masuk ke tulang lewat aliran darah dari paru-paru. Waktu yang dibutuhkan bakteri untuk masuk dan merusak tulang bervariasi. Ada yang singkat, tapi ada pula yang lama hingga bertahun-tahun. Bakteri TBC biasanya akan berkembang biak dengan pesat saat kondisi tubuh sedang lemah, misalnya selagi anak terkena penyakit berat. Saat itu kekebalan tubuhnya menurun, sehingga bakteri pun leluasa menjalankan aksinya.

Bagian tulang yang biasa diserang bakteri TBC adalah sendi panggul, panggul dan tulang belakang. Gangguan tulang belakang bisa terlihat dari bentuk tulang belakang penderita. Biasanya tidak bisa tegak, bisa miring ke kiri, ke kanan, atau ke depan. Sendi panggul yang rusak pun membuat penderita tidak bisa berjalan dengan normal. Sedangkan pada ibu hamil, kelainan panggul membuatnya tidak bisa melahirkan secara normal. Jika kelainannya masih ringan, upaya pemberian obat-obatan dan operasi bisa dilakukan. Lain halnya jika berat, tindakan operasi tidak bisa menolong karena sendi atau tulang sudah hancur. Penderita bisa cacat seumur hidup.

2. USUS

Selain karena komplikasi, TBC usus ini bisa timbul karena penderita mengonsumsi makanan/minuman yang tercemar bakteri TBC. Bakteri ini bisa menyebabkan gangguan seperti penyumbatan, penyempitan, bahkan membusuknya usus. Ciri penderita TBC usus antara lain anak sering muntah akibat penyempitan usus hingga menyumbat saluran cerna. Mendiagnosis TBC usus tidaklah mudah karena gejalanya hampir sama dengan penyakit lain. Ciri lainnya tergantung bagian mana dan seberapa luas bakteri itu merusak usus. Demikian juga dengan pengobatannya. Jika ada bagian usus yang membusuk, dokter akan membuang bagian usus itu lalu menyambungnya dengan bagian usus lain.

3. OTAK

Bakteri TBC juga bisa menyerang otak. Gejalanya hampir sama dengan orang yang terkena radang selaput otak, seperti panas tinggi, gangguan kesadaran, kejang-kejang, juga penyempitan sel-sel saraf di otak. Kalau sampai menyerang selaput otak, penderita harus menjalani perawatan yang lama. Sayangnya, gara-gara sel-sel sarafnya rusak, penderita tidak bisa kembali ke kondisi normal.

4. GINJAL

Bakteri TBC pun bisa merusak fungsi ginjal. Akibatnya, proses pembuangan racun tubuh akan terganggu. Selanjutnya bukan tidak mungkin bakal mengalami gagal ginjal. Gejala yang biasa terjadi antara lain mual-muntah, nafsu makan menurun, sakit kepala, lemah, dan sejenisnya. Gagal ginjal akut bisa sembuh sempurna dengan perawatan dan pengobatan yang tepat. Sedangkan gagal ginjal kronik sudah tidak dapat disembuhkan. Beberapa di antaranya harus menjalani cangkok ginjal.

CEGAH DENGAN PERTAHANAN TUBUH

Seperti disinggung di atas, siapa saja bisa terjangkit penyakit ini, apalagi Indonesia merupakan daerah endemik. Kita tidak bisa menghindar, yang bisa dilakukan adalah mencegah supaya tidak tertular. Karena penularan penyakit ini ada kaitannya dengan daya tahan tubuh, maka hal yang mesti dilakukan adalah meningkatkan daya tahan tubuh. Berikut beberapa aktivitas yang bisa dilakukan:

* Konsumsi makanan bergizi

Dengan asupan makanan bergizi, daya tahan tubuh akan meningkat. Produksi leukosit pun tidak akan mengalami gangguan, hingga siap melawan bakteri TBC yang kemungkinan terhirup. Selain itu, konsumsi makanan bergizi juga menghindarkan terjadinya komplikasi berat akibat TBC.

* Vaksinasi

Dengan vaksinasi BCG yang benar dan di usia yang tepat, sel-sel darah putih menjadi cukup matang dan memiliki kemampuan melawan bakteri TBC. Meski begitu, vaksinasi ini tidak menjamin penderita bebas sama sekali dari penyakit TBC, khususnya TBC paru. Hanya saja kuman TBC yang masuk ke paru-paru tidak akan berkembang dan menimbulkan komplikasi. Bakteri juga tidak bisa menembus aliran darah dan komplikasi pun bisa dihindarkan. Dengan kata lain, karena sudah divaksin BCG, anak hanya menderita TBC ringan.

* Lingkungan

Lingkungan yang kumuh dan padat akan membuat penularan TBC berlangsung cepat. Itulah mengapa upayakan lingkungan yang sehat dan jaga kebersihan makanan dan minuman. Istirahat dan berolahragalah yang cukup agar daya tahan tubuh meningkat. Lewat cara itu, semoga kita semua terbebas dari penyakit yang diperingati setiap 24 Maret ini.

Saeful Imam. Ilustrator: Pugoeh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

feed jit

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.