Minggu, 20 Desember 2009

Menabung Air mencegah Kekeringan

"Satu pohon bisa menyimpan 10 l air. Jagalah kelestariannya." Begitulah pesan yang tertera di papan pancang tepi Danau Lido menuju Pusat Pendidikan Pelestarian Alam Bodogol di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun, Bogor, Jawa Barat.



Air memang unsur utama kehidupan kita di planet Bumi. Kita bisa bertahan hidup berminggu-minggu tanpa makan, tapi tanpa air akan mati dalam beberapa hari saja. Air juga hal utama dalam budidaya pertanian, industri, pembangkit tenaga listrik, dan alat angkutan.

Dari segi jumlah, air memang zat paling melimpah di Bumi. Volumenya kira-kira 1,4 miliar km3 yang meliputi 70% permukaan Bumi. Hanya sekitar 3.000 km3 per tahun yang kita manfaatkan.

Sekilas, gambaran itu ideal untuk memenuhi kebutuhan akan air. Kenyataannya, ada masalah tahunan yang kerap kita hadapi sehari-hari. Musim kemarau, sumur mengering. Penduduk kota siap-siap menghadapi giliran air leding tersendat mengalir karena PAM kian sulit mendapatkan bahan baku. Musim penghujan, penduduk kota macam Jakarta, sebagian siap-siap menghadapi banjir. Penduduk di sejumlah daerah di lereng bukit yang dulunya berhutan lebat pun kian banyak yang harus bersiaga terhadap bencana tanah longsor dan banjir bandang.

Sebabnya jelas, kurangnya pepohonan penangkap air, tiada celah air meresap karena permukaan tanah sudah ditempati rumah, jalan, dan halaman yang diplester semen. Sungai pun dianggap sebagai jamban dan tempat sampah.



Jadi, apa yang bisa kita lakukan? Tetap menggunakan prinsip reduce-reuse-recycle (berhemat, gunakan kembali, daur ulang). Kala kemarau, penggunaan air perlu dihemat. Misalnya, dengan tidak memutar keran sampai maksimal, mandi dengan pancuran (shower), manfaatkan air bilasan terakhir cucian untuk mengepel lantai, mencuci mobil, motor, sepeda, sepatu, dan menyiram tanaman.

Sementara di musim hujan, kita perlu menabung air. Pada masa inilah kita perlu bantuan si penangkap air alami, yaitu tanaman. Jadi, ketimbang diplester atau dipasangi ubin, lebih baik halaman rumah ditutup rumput atau kerikil agar ada celah air meresap. Kalau halaman agak luas, lebih baik lagi ditanami pohon.

Air hujan juga bisa ditabung dengan sumur resapan. Seperti yang dilakukan di Sleman, Yogyakarta. Sumur sedalam 3 m ditutup bagian atasnya dengan beton cor bergaris tengah sekitar 80 cm dan dilubangi tengahnya. Bagian dalam sumur dilengkapi ijuk, kerakal dan tanah untuk menyaring dan meningkatkan mutu air.

Air hujan juga bisa ditabung dengan bak-bak penampungan untuk keperluan kebun sehari-hari. Di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, Jakarta, yang mulai langka air bersih karena padatnya penduduk, kita bisa menjumpai semacam "infus" tadah hujan di atap rumah penduduk. Air yang mengalir dari corong dan pipa ditampung di bak atau drum. Lumayan untuk keperluan mencuci.

Untuk mengurangi aliran air permukaan akibat turunnya hujan, tanaman dalam pot bisa dimanfaatkan. Tampaknya memang tak berarti. Namun, seandainya tiap pot bisa menahan segelas air hujan, bisa dibayangkan bila tiap rumah tangga memiliki sejumlah pot. Jumlah air hujan yang tak terserap Bumi dan mengalir di permukaan tanah akan berkurang. Hasilnya, menurunkan risiko banjir atau besarnya banjir di kota.
(Christ)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar