Selasa, 22 Desember 2009

KEKUASAAN DAN PELAYANAN

Watik, karyawati sebuah perusahaan swasta terkenal, enam bulan terakhir ini sering mengalami gangguan keseimbangan tubuh. Beberapa bagian tubuhnya terasa amat nyeri. Baginya, berbagai gangguan keseimbangan itu amat menakutkan. “Sepertinya saya tidak bisa mengendalikan kehidupan saya sendiri. Terkadang rasanya seperti mau mati,” begitu pengakuan ibu seorang anak ini.

Selama itu Watik sudah berobat ke beberapa dokter spesialis, namun pada dasarnya mereka tidak menemukan abnormalitas yang menjadi penyebab munculnya berbagai keluhan fisik Watik. Akhirnya dalam keadaan setengah putus asa, ia mendatangi seorang konselor. Di tengah rangkaian perjumpaan konseling yang cukup panjang dan melelahkan, muncul pengakuan spontan Watik tentang pimpinan institusi tempat dia bekerja.

“Setiap pagi, dia (sang pimpinan) selalu mengecek jam kedatangan saya di kantor. Kalau terlambat dua menit saja, dia menuding-nudingkan telunjuknya kepada saya, sembari mengatakan secara sinis, ’Terlambat lagi, terlambat lagi’. Kalau saya datang tepat waktu, dia juga selalu melihat arloji di hadapan saya, untuk memastikan bahwa saya tidak terlambat. Namun setelah tahu saya tidak terlambat, dia tidak pernah memberikan pujian yang menguatkan.”

Itulah sebagian kecil pengakuan Watik mengenai relasinya dengan pimpinan. Yang jelas, ia merasa sangat tertekan oleh sikap dan tingkah laku pimpinannya di kantor. Apalagi sang pimpinan sangat getol membebankan banyak tugas kepada Watik.

Namun di tengah rangkaian proses konseling yang cukup panjang, Watik juga bersyukur karena kesempatan berbicara berulang-ulang dengan konselor itu ternyata memberikan ketenangan dan kepastian dalam dirinya. Seiring dengan itu berbagai keluhan fisik yang sering dirasakan berangsur-angsur berkurang. Watik merasa lebih sehat. Dia merasa bahwa di tengah dunia ini masih ada orang yang sudi mengerti dan memahami dirinya.

Inilah titik kunci munculnya ketenangan dan kepastian yang semakin dirasakan Watik. Dia menyadari, karena dulu setiap hari hanya berhadapan dengan atasan yang selalu menekan, dia tergiring untuk meyakini bahwa tidak ada orang yang mau menerima dirinya, yang sudi mengerti dan memahami dirinya. Akibatnya, dia merasa tidak bisa lagi menjalani kehidupan dengan tenang dan pasti. Rasanya saat itu kehidupan identik dengan ketidakpastian.

Penghayatan ketidakpastian itu ternyata sangat mencekam Watik, sampai dia merasakan ketidakseimbangan yang sangat menakutkan dan menyiksa. Karena keterkaitan yang erat antara jiwa dan tubuh, penghayatan ketidakseimbangan itu terekspresikan pula secara fisik, berupa penghayatan gangguan keseimbangan tubuh. Bahkan, lebih jauh lagi muncul dalam bentuk keluhan rasa nyeri di berbagai bagian tubuh.


Pada titik ini dapat dilihat betapa manusia bisa sakit karena relasinya dengan orang lain. Sebaliknya, dia menjadi sembuh juga karena relasinya dengan orang lain. Seiring dengan makin sehatnya Watik, dia pun bisa melakukan reorientasi untuk meraih rasa percaya diri yang wajar. Pengaruh lain yang lebih positif, dia bisa lebih kuat dalam menghadapi atasannya di kantor.

Ketika sudah lebih sehat ia mengaku, “Seandainya saya punya pimpinan yang sudi bercakapcakap santai sebentar saja dengan saya setiap pagi sebelum mulai bekerja, tentang satu dua hal yang bersangkut paut dengan kehidupan kita sehari-hari, pasti saya akan sangat senang. Dengan demikian saya juga akan bisa lebih menghargai pimpinan, lebih mampu berdisiplin dalam bekerja.

“Saya mendambakan pimpinan yang tidak hanya tegas dan berkuasa terhadap para karyawan, namun juga bijaksana dan mampu melayani. Saya yakin, teman-teman di kantor pun diam-diam mendambakan hal serupa. Mereka sering menyampaikan unek-unek kepada saya. Mudah-mudahan kesediaan saya untuk mendengarkan mereka, bisa berandil mencegah mereka jatuh dalam stres, seperti yang pernah saya alami.”

Sesungguhnya Watik mengemukakan suatu filosofi relasi yang sangat luhur. Inti filosofi itu adalah ketegasan yang selalu berdampingan dengan kebijaksanaan (kearifan), dan kekuasaan yang selalu berdampingan dengan sikap melayani. Filosofi relasi yang luhur itu merangkum pula nilai-nilai penting yang seyogianya dimiliki oleh setiap pemimpin, bahkan setiap insan.

Ketegasan memang diperlukan oleh setiap pemimpin dan setiap insan di tengah relasi mereka dengan orang-orang lain. Namun ketegasan yang berada sendirian bisa menjelmakan keangkeran dan tekanan yang membuat orang lain menderita. Oleh karena itu ketegasan harus berdampingan dengan kebijaksanaan.

Kalau hanya dilihat dengan kacamata ketegasan, dua menit keterlambatan seorang karyawan niscaya dianggap sebagai kelalaian yang mesti diberi sanksi setimpal. Namun selalukah dua menit keterlambatan itu identik dengan kelalaian? Bukankah kehidupan manusia sedemikian kompleks dan multifaktorial? Bisa jadi, suatu saat Watik terlambat karena sebelum berangkat kerja dia sakit perut, sehingga dia perlu sekali ke kamar kecil sebentar. Atau barangkali anaknya yang masih berusia satu setengah tahun terjatuh dari tempat tidur dan terluka. Kondisi-kondisi seperti itu tidak bisa hanya dihadapi dan dinilai dengan ketegasan melulu, namun pula perlu dihadapi dengan kebijaksanaan.

Di lain pihak, kekuasaan pun diperlukan oleh setiap pemimpin. Kekuasaan memungkinkan eksekusi kebijakan yang baik dan benar. Tanpa kekuasaan, kebijakan sulit diwujudnyatakan. Namun ketika kekuasaan berada sendirian, sang pemimpin bisa menjelma menjadi diktator, penguasa otoriter, dan dalam keadaan demikian, para bawahannya akan menghayati kehadiran dia sebagai penguasa yang sewenang-wenang. Penghayatan seperti itu justru bisa menjadikan eksekusi kebijakan tidak bisa berlangsung optimal, karena bawahan yang merasa diperlakukan sewenang-wenang.

Kekuasaan diperlukan, namun harus berdampingan dengan semangat melayani. Semangat melayani itulah yang memungkinkan seorang pemimpin bercakap-cakap santai tentang satu dua persoalan di tengah kehidupan sehari-hari, setiap pagi hari sebelum bekerja. Tidak mustahil, dengan sekadar layanan seperti itu, karyawan bisa merasakan lebih dihargai. Dengan demikian mereka mendapatkan modal moral psikologis yang memadai untuk menunaikan tugas dan pekerjaan dengan baik, benar, optimal.

dr. Limas Sutanto, Sp.K.J., pengamat psikososial dari STFT Widya Sasana, Malang.
dari : intisari-online.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar