Kamis, 24 Mei 2012

Oh … sipit

                  Seseorang dibalik sebuah jendela kaca tebal, mulai menampakkan dirinya, oh, aku kenal dia. Kenapa ya, ada sesuatu tentang dia, dia itu .. menarik, bisakah waktu itu mulai berputar terbalik. Dan menampakkan satu dirinya di masa lalu. Entahlah, ada yang perlu aku ingin katakan padanya, aku ingin katakan, … maaf. Bukan saat yang tepat untuk memulai lagi, bukan juga tempat yang pasti untuk memberikan kehangatan itu. Entahlah, jika saja hatinya tampak transparan, pasti akan terlihat ketika dirinya mulai tidak bisa. Dengan sebuah untaian langkah gegap, namun tertunduk, aku hanya bisa melihat sebatas pinggul. Entahlah, pinggul itu emang menarik untuk beberapa orang. Ketika tinggal 4 langkah ke depan, dia hanya terdiam, lalu terbangun, sambil dengan menatap kesamping, oh.. dia mau pergi. Aduh .. kenapa aku bisa begitu bodoh, kenapa langkah ini jadi ke arah lain. Yang pasti, aku telah terpukul di kepala. Bodoh, seperti itu ya rasanya. Dia mulai berjalan ke arah lain .. menjauh, ketika itu pula satu paras tidak asing lagi untuk ku. Seperti orang yang sama, namun dia sedikit hmm … apa ya ? aku lebih suka ketika satu kelebihan memang terlihat. dia berkata… eh .. kamu.. tumben. Aduhhh .. satu senyum simpul terlihat di wajahku .. mungkin .. adalah satu paras yang sedikit lebih bisa membuatku . tenang untuk semntara. Sambil merasakan kehadiran dirinya yang telah ke arah lain. Wow … aku tak percaya ada sebuah cahaya di depan ku. kenapa ya aku ingin sekali bicara dengan dirinya dari yang satu ini. Karena mungkin lebih ke .. aku suka sipitnya ..

                 Ya .. aku suka sipitnya . Untaian ungkapan kekaguman tak henti hentinya aku katakan. tak henti hentinya .. aku merasa seperti orang yang teracuni oleh paras nya. Aku .. merasa .. mabuk. mabuk yang baik, mabuk hati yang gelap, yang ada cahaya sedikit… aku berharap cahaya itu ada, aku berharap, aku berharap. Ini bukan satu kali aku ungkap, kenapa ada yang satu ini, yang membuatku merasa, karena aku lupa wajah, tapi tidak rasa …. sipit, bukan rasa, tapi terlihat dan merasa. Sipit, aku terkena .. racun mu, .. oh sipit, bangunkan aku ke alam nyata. Karena aku ingin hidup kembali, aku ingin kembalikan rasa, rasa yang mungkin aku sudah lupa, sekian lama. Aku ingin .. tapi frustasi. Aku dan sipit, bukankah itu sudah ? aku ingin lagi ? atau aku mati dan lupa oleh sipit. Sipit, oh sipit. Matikan aku ya .. biar aku lupa. Dan aku ingin … lupa dan hilang tanpa mu sipit. biar rasa ini ada .. aku hanya .. lihat dirinya dan dia pun terlihat seperti itu … aku lihatnya … sipit aku rasa kamu cantik.

1 komentar: