Senin, 11 April 2011

Ketika Ombak itu Tinggi,

Sedikit cerita yang agak kurang menyenangkan ketika liburan weekend, dan kebanyakkan orang pastinya akan berangkat menuju tempat – tempat yang menyenangkan, ada yang berkunjung ke pantai, ada yang berpergian ke tempat rekreasi atau hanya berjalan – jalan kuliner. Salah satu dari pilihan itu membuat saya ke salah satu restoran cukup besar, atau mungkin kedai makanan di pusat pertokoan ehem, di Cikarang, memang bukan pilihan yang tepat, namun berhubung rencana dadakan yang tidak di rencakan sebelumnya, yachh.. ap boleh buat, harus ke tempat tesebut. Bukan dari tempatnya yang (sebelumnya) itu baik, bersih, dan rapih. Atau pastinya mempunyai standard yang bisa di bilang bagus. Dari harga makanan yang cukup (sesuai jajanan jalanan) dan pastinya jika kita inginkan kondisi yang bagus dan lingkungan yang baik, pastinya harus ‘lebih’ dari harga jajanan jalanan.

Ingin sekali saya menyebutkan salah satu merk dagang kedai makanan tersebut, yang terletak di lantai dasar, L^%%$@ Cikarang, Ketika saya pertama kali masuk, begitu berantakan, dengan sisa makanan yang belum di bersihkan, dan lantai yang cukup membuat orang berpikir, ini bukan standard pusat pertokoan yang baik, Namun ketika ombak tinggi itu datang dan menerpa semuanya, apakah kita akan diam ? ataukah kita akan mengikuti laju ombak yang tinggi tersebut. ?

Rasa lapar yang begitu menggoda perut, ketika saya memasuki kedai makana tersebut, dan yang tersisa adalah bangku dekat pramu saji yang berbentuk seperti meja bar, namun sangat memprihatinkan, dengan begitu banyak piring kotor yang menumpuk, dan membuat pemandangan yang tidak baik untuk di lihat, di tambah meja yang akan kami duduki masih dengan kondisi yang tidak begitu baik, atau masih ada sisa – sisa makanan / rempah yang belum di rapihkan. Saya hampir ingin sekali membatalkan perjalanan ke kedai tersebut, namun sudah nanggung di depan bangku yang akan di duduki, terlanjur sudah, saya duduk di meja itu. Dengan sedikit membuat perasaan ‘para’ pramusaji yang 'letih’ menjadi (tidak enak) karena saya melihat sekeliling dengan memperhatikan keadaan yang kurang begitu bersih. Yah, mungkin ini karena ‘over’ trafik yang tinggi. Tapi saya rasa semua orang di tempat manapun akan berbuat sama, dengan tingkat ke kotoran yang bervariasi, (saya sedikit) melakukan perjalanan dari satu merk kedai makanan ke yang lainnya, dan pastinya semua tempat itu kotor dan sisa – sisanya masih ada, tapi ini bukan yang saya ingin utarakan, yang ingin saya keluhkan adalah bagaimana sistem kerja para pramusaji, dengan tingkat ombak yang tinggi, apakah mereka sudah terlalu letih dan membiarkan diri mereka menelan semua permasalahan yang ada dengan tidak ada pilihan lain, kecuali tenggelam, pastinya ini sebuah kartu mati baik untuk mereka sendiri ataupun untuk orang lain yang berada di lingkungan kedai makanan tersebut. Bagaimana tidak, andai saja semua orang bisa mengerti keadaan, bukan karena tugas mereka saja, atau bahkan tidak hadirnya orang – orang yang seharusnya berada di posisi yang memungkinkan perhatian yang lebih dari semua tindakan dan pekerjaan mereka itu, menjadikan diri mereka sendiri berada di posisi yang tidak mempunyai pilihan, selain menerima semua ombak dan membiarkan diri mereka menelan semua air yang ada.

Walaupun usaha penyelamatan diri mereka di rasa kurang cukup untuk membuat keadaan lingkungan tersebut menjadi lebih baik lagi. Sebenarnya bukan itu, tetapi bagaimana suatu tim bisa bekerja sama agar tidak membiarkan ombak yang datang menjadi bisa di tahan atau bahkan di kendalikan sehingga tidak membuat diri mereka menjadi korban dari salahsatu penomena yang pastinya setiap hari akan di temui dalam hal lingkungan kerja mereka yang sangat – sangat ketat dan tingkat ‘ombak’ yang tinggi.

Oke, salah satu penyebab adalah sifat manusia, entahlah, banyak dari para pramusaji itu mungkin kelelahan, atau bahkan tidak merasa di bayar cukup untuk melakukan pekerjaan yang sudah menjadi prosedur bukan standard saja.

Saya disini bukan untuk sekedar menghakimi atau membuat keluhan pelanggan dari S@l4r1a, jika memang hal itu menjadikan produk mereka sangat laris, mengapa tidak di imbangkan dengan tingkat standard frenchies lainnya.

Salah satu pelajaran yang bisa di ambil disini adalah bukan karena tindakan para pramusaji yang dengan tidak sopan membuat kegaduhan sendiri di tempat kerja mereka / kitchen, dengan membanting piring – piring kotor, membuat argumentasi dengan teman kerja sendiri / satu tim shift. Lalu di tambah dengan pelayanan yang sangat lambaaaat, dari pertama kali kita membuat pesanan makanan, kemudian menunggu pramu saji datang mengambil dan membuat pembayaran di tempat. Lalu, ketika kita membuat satu pembayaran , apakah sudah menjadi ‘HAK’ pelanggan untuk di berikan pelayanan yang baik sesuai kapasitasnya ????

Saya sangat menyayangkan, jika pernyataan saya ini membuat banyak orang yang terkait menjadi sangat tidak menyenangkan,

SOLARIA

Namun, pastinya saya tidak mau lagi datang ke tempat itu, dengan mempunyai pengalaman seperti tesebut diatas,

Sebenarnya sebelumnya, sangat baik, sopan, dan pelayanan dengan standard sesuai dengan tingkat kesulitan masakannya, dibandingkan dengan kedai makanan yang lainnya, yang tinggal menggoreng saja, tidak melakukan pengolahan makanan terlebih dahulu.

Sebenarnya saya cukup senang dengan keadaan yang di atas (ehem). Selain dengan harga yang cukup terjangkau, bisa di bilang kompetitif, namun sekali lagi, saya menyayangkan semua pihak yang berada di tempat itu.

Dan jika hal ini bisa di ketahui oleh para pihak yang kemungkinan berwenang pada kedai makanan (yang saya datang, di lantai 1 itu),

Besar harapan saya jika ada perhatian yang lebih dari pihak itu, supaya bisa mengatasi semua permasalahan ketika ombak itu tinggi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar