Kamis, 04 Juni 2009

Tewasnya Pengarang Tersantun di Dunia

Tewasnya Pengarang Tersantun di Dunia 
Cerpen: Akmal Nasery Basral 
Sumber: Jawa Pos, Edisi 10/29/2006 

DENTUM musik Buddha Bar kian mendidih, merebus malam sampai matang. Aku menyesap beberapa teguk margarita. Serbuk garam yang melekat di tubir gelas menyampaikan rasa yang sukar ditata kata-kata. Cafe ini luar biasa. Semakin tua gulita, semakin ramai jiwa mampir membuang jentaka. Aku melihat ke pintu. Gadis yang kutunggu akhirnya datang juga. Tangannya melambai, hatiku berderai. Kakinya melambung seringan langkah Zhang Ziyi di Memoirs of A Geisha.

"Maaf aku terlambat, Midun."
"Jangan memanggilku begitu, Halimah."

"Tapi itulah nama pemberian Sutan Sampono Kayo kepada kita."
"Kalau kau tak keberatan dipanggil Halimah, silakan. Tapi jangan Me-Midun-kan aku di tempat umum. Cukup Mid saja."

"Oke," Halimah menebar pandangan ke sekeliling cafe. "Mengapa kita harus bertemu di sini?"

Aku memanggil pelayan, memesan margarita bagi Halimah. "Aku mau pembicaraan ini tak diketahui Sutan Gilo Budayo itu, Imah."

"Astaga! Mana mungkin beliau tidak tahu percakapan kita? Kita ini cuma tokoh-tokoh roman yang sedang ditulisnya. Semua kalimat kita adalah apa yang ia pikirkan. Selain itu beliau jalil, berakhlak mulia. Tidak pantas menyebutnya gilo budayo."

"Kalau bukan gilo budayo, mengapa dia selalu menulis dengan nama Sutan Sampono Kayo? Itu pasti nama palsu."
"Dia orang Minang, Mid. Bagi mereka berlaku: kecil menggunakan nama lahir, setelah menikah memakai gelar adat."

"Itu gilo budayo. Sekarang abad keberapa, Imah? Mengapa dia menamakan kita Midun dan Halimah, bukan Mike dan Helly?"

"Beliau penggemar Sengsara Membawa Nikmat, Mid."
"Lagu dangdut itu? Ah, sudah kuduga!"

Pelayan datang membawa pesanan. Imah membasahi bibirnya yang sintal. Sampai sekarang aku belum bisa merasakan manisnya bibir itu karena Sutan-Sialan-Nan-Tidak-Kayo-Rayo itu belum juga menuliskan adegan romantis bagi kami berdua. Aku tidak mengerti, pengarang macam apa yang tidak berani menuliskan gairah cinta bagi tokoh-tokohnya?

Suara lembut Imah melunakkan kejengkelanku. "Bukan lagu dangdut, Mid. Itu judul novel lama sebelum kemerdekaan."

"Astaga! Mana aku tahu pengarang zaman dulu?"
"Sudahlah jangan bertele-tele. Katakan saja maksudmu mengundangku ke sini."

"Aku ingin membunuh Sutan!"
Percikan margarita menyembur dari mulut indah Imah. Ah, seandainya aku bisa menikmati empuknya bibir itu sekarang! Tapi justru suara setajam lembing yang terlontar menusuk telingaku. "Gila! Kamu mabuk, Mid?"

"Mana mungkin aku mabuk karena margarita?"
"Alasannya?"

"Aku mencintaimu, Imah. Tapi Sutan Gilo itu malah berencana membuat ending tragis bagi kita."

"Kisah kita belum separonya beliau tulis, Mid." Imah seperti teringat sesuatu. "Dan lagi, kisah Midun dan Halimah di Sengsara Membawa Nikmat itu berakhir bahagia."

"Kita tidak mungkin bersatu di akhir cerita Imah. Percayalah!"
"Mengapa?"

"Sutan mungkin pengarang kuno, tapi bukan penjiplak. Dia tak akan mengambil nama tokoh sekaligus ending yang sama dari kisah lain."

"Masuk akal juga. Apalagi beliau pernah memenangi berbagai penghargaan sastra."
"Itulah. Hadiah-hadiah itu membawanya ke jalur yang salah, sehingga terbebani mengulang formula yang sama dari buku ke buku."

"Aku masih belum paham alasanmu, Mid."
"Aku tersiksa sekali Imah. Aku seharusnya hidup di zaman sekarang, menikmati kemesraan denganmu. Tapi Sutan kolot itu membelengguku dengan norma-norma apak yang membuat muak. Menyentuh tanganmu saja aku tak bisa. Untuk menghirup wangi rambutmu aku harus menunggu angin mengantarkannya ke rumahku. Sutan Setan! Apa dia kira kita tinggal di pinggir laut di mana angin selalu bertiup?"

"Beliau tak ingin melanggar norma yang diperjuangkannya sejak dulu, Mid."
"Omong kosong! Pantangan yang berlaku universal itu cuma satu: jangan mencuri. Kejahatan lainnya hanya soal kecil."

"Pembunuhan? Apakah itu soal kecil, Mid?"
"Pembunuhan adalah mencuri hak hidup orang lain, sayangku."

"Perkosaan? Itu menghancurkan masa depan korban, bukan?"
"Perkosaan itu mencuri nikmat yang seharusnya dirasakan berdua menjadi kesenangan sepihak."

"Korupsi bagaimana? Apa itu bukan dosa besar?"
"Menurutku pelaku korupsi seharusnya ditembak mati di alun-alun kota."

"Berarti bukan sekadar dosa kecil kalau begitu."
"Imah, korupsi itu mencuri hak orang lain demi kepuasan diri sendiri dan keluarga."

"Aku tidak mengerti pikiranmu, Mid."
"Jika setiap orang di muka bumi berpikir untuk tidak mencuri hak orang lain dalam bentuk apapun, maka jumlah kejahatan akan merosot drastis."

"Tapi kamu ingin membunuh Sutan. Itu mencuri hak hidupnya."
"Betul, namun dia lebih dulu mencuri hak hidupku untuk bebas mencintai siapa pun yang kusuka. Ia memperkenalkanku denganmu tetapi tak mengizinkan aku mencintaimu. Itu sewenang-wenang."

Halimah mengembuskan napas panjang. Ia mengambil minuman di depannya, tapi tak diteguknya selain digoyang-goyangkan perlahan.

"Mid, anggaplah, umm, anggaplah aku setuju. Apa yang akan kamu lakukan untuk membunuh … aduh, mengerikan sekali niatmu."

"Itu yang ingin aku diskusikan sekarang."
"Diskusikan? Kau pikir aku akan memberimu saran untuk membunuh? Gila!"

"Bukankah kau juga mencintaiku, Imah?"
"Ya, tapi …?"

"Jadi kamu ingin kisah kita berakhir tragis? Atau kau ingin dinikahkan dengan datuk tua kikir, serta menghabiskan hidupmu merawat tulang belulang uzur?"

"Itu Siti Nurbaya, Mid. Kisah lain!"
"Jangan dipahami letterlijk, Imah. Intinya, apakah kau siap berpisah denganku?"

"Tergantung Sutan Sampano Kayo."
"Memangnya dia Tuhan yang bisa mengatur nasib orang lain?"

Imah terdiam. Aku melihat arloji. "Sebentar lagi tengah malam. Biasanya Sutan akan bangun dari tidurnya, dan melanjutkan menulis sampai menjelang Subuh, bukan?"

Halimah mengangguk. Lehernya jenjang sekali. Dasar Sutan sialan! Aku hanya bisa menikmati otot-otot bersih dan pastilah seharum kesturi itu hanya dari kejauhan. Motivasiku untuk membunuh Sutan semakin bulat. "Kalau begitu, apakah kau setuju kalau kopinya kutaburi arsenik?"

"Terlalu mengerikan, Mid."
"Bagaimana kalau aku menyewa pembunuh bayaran? Orang ini cukup berpapasan sekali dengan Sutan, dan bang! bang! bang!"

"Kamu terlalu banyak menonton film-film Quentin Tarantino. Tidak."
"Mengapa tidak?"

"Darimana kamu bisa membayar pembunuh bayaran itu?"
"Aku mengerti. Kalau begitu harus dicari cara yang lebih murah. Aku tahu. Dukun, paranormal, psychic."

"Hiii.. jangan ah! Mid, aku harus pulang. Batalkan niatmu. Aku sayang kamu, tapi aku tak mau kau membunuhnya. Aku akan membujuknya lewat mimpi agar beliau menjadikan kita bersatu. Akan segera kulakukan mumpung ia masih lelap."

"Maksudmu?"
"Sutan Sampono itu pengarang yang santun, Mid. Beberapa tahun ini setelah tubuhnya didera beragam komplikasi, para redaktur budaya media cetak yang hormat dengan reputasinya berusaha menolong dengan menggandakan honor tulisannya dua kali lipat. Para redaktur itu sesungguhnya tahu Sutan Sampono tak suka dibantu dalam bentuk apapun. Baginya menulis adalah panggilan hidup, bukan lagi pilihan. Ia menerima seluruh konsekuensi sebagai penulis dengan tawakal."

"Jadi ia tak tahu kalau selama ini honornya digandakan?"
"Justru sebaliknya. Entah bagaimana ia bisa tahu, dan selalu mengembalikan apa yang bukan haknya. Ia tak mau orang membayar lebih karena iba, bukan akibat kualitas karyanya."

"Mungkin Sutanmu itu bukan penulis mata duitan, tapi dari mana kamu yakin dia pengarang tersantun di dunia? Pengarang itu selalu punya banyak pacar, kamu tahu betul tentang ini Imah."

"Selalu ada perkecualian di setiap hal, Mid. Jangan terlalu percaya mitos."
"Bagaimana dengan aprosidiak? metamphetamine? mescaline?"

"Aku tak pernah dengar soal itu."
"Tak pernah dengar bukan berarti tak ada, Imah."

"Aku tahu, tapi ini sudah hal lain." Halimah melihat arlojinya. Bibirnya bergerenyit seperti sedang memikirkan sesuatu. Hoi Sutan Sampono, izinkan aku mengembara pada seketul daging elok itu untuk beberapa menit saja.

Halimah menatap mataku. "Maaf Mid. Aku harus pulang sekarang."
"Kuantar ya? Berbahaya bagi perempuan pulang selarut ini sendirian."

"Tidak, terima kasih. Ini bukan zaman Siti Nurbaya. Lagi pula di mobilku ada pistol darurat yang bisa kugunakan kalau terpaksa. Doakan agar aku tak menggunakannya malam ini."

"Kalau begitu hati-hati di jalan."
"Kamu juga sebaiknya segera pulang. Jangan mabuk."

"Cium aku, Imah."
"Tidak. Sampai bertemu lagi, Mid!"

"Kapan?"
Imah mengedikkan bahu. "Belum tahu. Sutan Sampono sering mengalami writer’s block belakangan ini." 

Aku terhenyak. Kalau Halimah saja menolak ideku, siapa yang bisa membantu? Maka aku habiskan sisa malam dengan mengirimkan air api dari berbagai merek dan kadar ke dalam perutku tanpa henti. Sebelum kesadaranku hilang, aku panggil seorang pelayan. Maksudku agar ia mencarikan taksi. Tapi yang kulakukan justru mengeluarkan isi perut, memuntahi wajahnya dengan sempurna. 
* * *
HARI belum terang tanah ketika dari sebuah rumah kecil di pinggir kota terdengar jerit suara perempuan tua. Para tetangga yang baru menunaikan salat Subuh segera berdatangan ke rumah itu. Mereka melihat Sutan Sampono Kayo, sang pemilik rumah, tergeletak di lantai. Kursinya terbalik tak jauh dari tubuhnya yang kaku. Komputernya masih menyala. Wajahnya beku. 

Dokter yang datang kemudian memastikan lelaki tua itu mengalami stroke yang membuat batang otaknya pecah. "Dari tanda-tanda fisiknya sekarang, tampaknya Bapak overdosis." Ia berkata dengan sangat lembut kepada istri almarhum seperti ingin memberi tahu sebuah aib. "Atau meminum alkohol di luar batas normal untuk orang seumurnya."

Tetangga saling menatap dengan heran. Itu informasi teraneh yang pernah mereka dengar tentang Pak Sutan-nama populernya di kalangan warga. Istri almarhum memekik. "Tidak mungkin. Sepanjang hidupnya ia tak bersentuhan dengan alkohol atau obat-obat terlarang. Hidupnya sebersih kafan yang akan membungkusnya. Katakan dokter, apa penyebab kematian suamiku yang sebenarnya?"

Tangis perempuan itu merobek angkasa. Ia tahu mati adalah misteri, namun ia tak bisa menerima jika suaminya meninggal dalam keadaan begini.***
Jakarta, 2006 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar